Pembuatan Kertas Membutuhkan Banyak Bahan Bakar, Listrik Dan Air

Jakarta Timur- Kertas terbuat dari pepohonan di hutan. Untuk mengolah kertas dibutuhkan waktu yang tidak singkat. “Mulai dari pepohonan di hutan yang ditebang, kemudian diangkut dengan transportasi, yang tentunya transportasi tersebut membutuhkan bahan bakar. Transportasi tersebut menuju pabrik yang mengolah yang aslinya pohon menjadi bubur kertas. Untuk pemrosesan batang pohon menjadi bubur kertas dan kertas ini tentunya membutuhkan banyak energi  listrik dan air,” kata Satuman, aktivis Tunas Hijau saat pembinaan Jakarta Eco School bersama Freeport Peduli di SDN Lubang Buaya 04 Jakarta Timur, Kamis (14/4).

Berlomba-lomba mencari sampah kertas

Sesaat setelah penjelasan proses pembuatan kertas dari pepohonan di hutan melalui proses industri, Satuman mengajak para siswa untuk berlomba-lomba untuk mencari sampah kertas sebanyak-banyaknya. “Kita sudah tahu proses pembuatan kertas sebenarnya. Bahwa pembuatan kertas secara industri juga berdampak pada semakin buruknya dampak pemanasan global yang selama ini kita rasakan. Maka, ayo kita kumpulkan sampah kertas kita dan mulai mengolah sampah kertas yang kita hasilkan di sekolah,” kata Satuman.

Sekitar 5 menit anak-anak itu mencari sampah kertas yang banyak tercampur dengan sampah jenis yang lainnya di sekolah. Sejumlah satu kardus mi instan sampah kertas pun berhasil dikumpulkan. Oleh Satuman, dibantu seluruh siswa peserta pembinaan, semua sampah kertas itu disobek menjadi pecahan kecil-kecil dan direndam air. Sejurus kemudian rendaman potongan kertas itu dihancurkan menjadi bubur kertas dengan menggunakan blender. “Lebih mudah dan lebih hemat membuat kertas baru dari sampah kertas daripada membuat kertas baru dengan mengolah pepohohan hutan,” terang Satuman.

membuat kertas baru dari sampah kertas

Permainan ular tangga lingkungan hidup yang ditata di koridor SDN Lubang Buaya 04 Jakarta Timur juga ramai dimanfaatkan siswa yang lainnya. Terdengar suara anak-anak yang membaca informasi lingkungan hidup pada setiap kotak ular tangga itu. Dimas Aditya menuturkan bahwa bermain ular tangga lingkungan sangat menyenangkan. “Banyak hal baru lingkungan hidup yang bisa aku dapat. Banyak ular tangga yang saya mainkan tapi baru ini dengan tema khusus lingkungan hidup dan banyak informasinya,” ujar Dimas saat bermain ular tangga itu.

Sementara itu, Kepala SDN Lubang Buaya 04 Jakarta Timur Rr. Sri Kusdianti menyatakan sangat menyambut
baik program Jakarta Eco School 2011 yang diselenggarakan Freeport Peduli dan Tunas Hijau ini. “Terima kasih sebanyak–banyakya atas pembinaan tim Jakarta Eco School. Anak didik kami jadi mengerti bagaimana caranya mengolah sampah kertas agar bermanfaat. Kegiatan ini seperti ini harus dilakukan berkesinambungan,” tutur Rr. Sri Kusdianti. (suud)

No TweetBacks yet. (Be the first to Tweet this post)